Ajaran Islam Murni (AIM) Sesuai Al-Quran dan Hadits, berisi artikel yang sudah kami baca dan terjamin keabsahan sumbernya.

Thursday 24 March 2011

Kesehatan Qolbu

Mendeteksi Sehatnya Qalbu
December 15, 2008 — Abdullah Hadrami (Views: 8)

Qalbu yang sehat memiliki beberapa tanda, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitab “ighatsatul Lahfan min Mashayid asy-Syaithan” Dan di antara tanda-tanda tersebut adalah mampu memilih segala sesuatu yang bermanfaat dan memberikan kesembuhan. Dia tidak memilih hal-hal yang berbahaya serta menjadikan sakitnya qalbu. Sedangkan tanda qalbu yang sakit adalah sebaliknya. Santapan qalbu yang paling bermanfaat adalah keimanan dan obat yang paling manjur adalah al-Qur’an. Selain itu, qalbu yang sehat memiliki karakteristik sebagai berikut:

1.Mengembara ke Akhirat

Qalbu yang sehat mengembara dari dunia menuju ke akhirat dan seakan-akan telah sampai di sana. Sehingga dia merasa seperti telah menjadi penghuni akhirat dan putra-putra akhirat. Dia datang dan berada di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, yang mengambil sekedar keperluannya, lalu akan segera kembali lagi ke negeri asalnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau (musafir) yang melewati suatu jalan.” (HR. al-Bukhari)

Ketika qalbu seseorang sehat, maka dia akan mengembara menuju akhirat dan terus mendekat ke arahnya, sehingga seakan-akan dia telah menjadi penghuninya. Sedangkan bila qalbu tersebut sakit, maka dia terlena mementingkan dunia dan menganggapnya sebagai negeri abadi, sehingga jadilah dia ahli dan hambanya.

2.Mendorong Menuju Allah subhanahu wata?¦ala

Di antara tanda lain sehatnya qalbu adalah selalu mendorong si empunya untuk kembali kepada Allah subhanahu wata’ala dan tunduk kepada-Nya. Dia bergantung hanya kepada Allah, mencintai-Nya sebagaimana seseorang mencintai kekasihnya. Tidak ada kehidupan, kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan kecuali hanya dengan ridha Allah, kedekatan dan rasa jinak terhadap-Nya. Merasa tenang dan tentram dengan Allah, berlindung kepada-Nya, bahagia bersama-Nya, bertawakkal hanya kepada-Nya, yakin, berharap dan takut kepada Allah semata.

Maka qalbu tersebut akan selalu mengajak dan mendorong pemiliknya untuk menemukan ketenangan dan ketentraman bersama Ilah sembahan nya. Sehingga tatkala itulah ruh benar-benar merasakan kehidupan, kenikmatan dan menjadikan hidup lain daripada yang lain, bukan kehidupan yang penuh kelalaian dan berpaling dari tujuan penciptaan manusia. Untuk tujuan menghamba kepada Allah subhanahu wata’ala inilah surga dan neraka diciptakan, para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan.

Abul Husain al-Warraq berkata, “Hidupnya qalbu adalah dengan mengingat Dzat Yang Maha Hidup dan Tak Pernah Mati, dan kehidupan yang nikmat adalah kehidupan bersama Allah, bukan selain-Nya.”

Oleh karena itu terputusnya seseorang dari Allah subhanahu wata’ala lebih dahsyat bagi orang-orang arif yang mengenal Allah daripada kematian, karena terputus dari Allah adalah terputus dari al-Haq, sedang kematian adalah terputus dari sesama manusia.

3.Tidak Bosan Berdzikir

Di antara sebagian tanda sehatnya qalbu adalah tidak pernah bosan untuk berdzikir mengingat Allah subhanahu wata’ala. Tidak pernah merasa jemu untuk mengabdi kepada-Nya, tidak terlena dan asyik dengan selain-Nya, kecuali kepada orang yang menunjukkan ke jalan-Nya, orang yang mengingatkan dia kepada Allah subhanahu wata’ala atau saling mengingatkan dalam kerangka berdzikir kepada-Nya.

4. Menyesal jika Luput dari Berdzikir

Qalbu yang sehat di antara tandanya adalah, jika luput dan ketinggalan dari dzikir dan wirid, maka dia sangat menyesal, merasa sedih dan sakit melebihi sedihnya seorang bakhil yang kehilangan hartanya.

5. Rindu Beribadah

Qalbu yang sehat selalu rindu untuk menghamba dan mengabdi kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana rindunya seorang yang kelaparan terhadap makanan dan minuman.

6.Khusyu’ dalam Shalat

Qalbu yang sehat adalah jika dia sedang melakukan shalat, maka dia tinggalkan segala keinginan dan sesuatu yang bersifat keduniaan. Sangat memperhatikan masalah shalat dan bersegera melakukannya, serta mendapati ketenangan dan kenikmatan di dalam shalat tersebut. Baginya shalat merupakan kebahagiaan dan penyejuk hati dan jiwa.

7.Kemauannya Hanya kepada Allah

Qalbu yang sehat hanya satu kemauannya, yaitu kepada segala sesuatu yang diridhai Allah subhanahu wata’ala.

8. Menjaga Waktu

Di antara tanda sehatnya qalbu adalah merasa kikir (sayang) jika waktunya hilang dengan percuma, melebihi kikirnya seorang yang pelit terhadap hartanya.

9. Introspeksi dan Memperbaiki Diri

Qalbu yang sehat senantiasa menaruh perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal, melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk meningkat kan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba’ah (mengontrol) dan ihsan (seakan-akan melihat Allah subhanahu wata’ala dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah). Bersamaan dengan itu dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah subhanahu wata’ala serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya.

Demikian di antara beberapa fenomena dan karakteristik yang mengindikasikan sehatnya qalbu seseorang.

Dapat disimpulkan bahwa qalbu yang sehat dan selamat adalah qalbu yang himmah (kemauannya) kepada sesuatu yang menuju Allah subhanahu wata’ala, mencintai-Nya dengan sepenuhnya, menjadikan-Nya sebagai tujuan. Jiwa raganya untuk Allah, amalan, tidur, bangun dan bicaranya hanyalah untuk-Nya. Dan ucapan tentang segala yang diridhai Allah lebih dia sukai daripada segenap pembicaran yang lain, pikirannya selalu tertuju kepada apa saja yang diridhai dan dicintai-Nya.

Berkhalwah (menyendiri) untuk mengingat Allah subhanahu wata’ala lebih dia sukai daripada bergaul dengan orang, kecuali dalam pergaulan yang dicintai dan diridhai-Nya. Kebahagiaan dan ketenangannya adalah bersama Allah, dan ketika dia mendapati dirinya berpaling kepada selain Allah, maka dia segera mengingat firman-Nya,
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya.” (QS. 89:27-28)

Dia selalu mengulang-ulang ayat tersebut, dengan harapan dia akan mendengarkannya nanti pada hari Kiamat dari Rabbnya. Maka akhirnya qalbu tersebut di hadapan Ilah dan Sesembahannya yang Haq akan terwarnai dengan sibghah (celupan) sifat kehambaan. Sehingga jadilah abdi sejati sebagai sifat dan karakternya, ibadah menjadi kenikmatannya bukan beban yang memberatkan. Dia melakukan ibadah dengan rasa suka, cinta dan kedekatan kepada Rabbnya.

Ketika disodorkan kepadanya perintah atau larangan dari Rabbnya, maka hatinya mengatakan, “Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi dengan suka cita, sesungguhnya aku mendengarkan, taat dan akan melakukannya. Engkau berhak dan layak mendapatkan semua itu, dan segala puji kembali hanya kepada-Mu.?¨

Apabila ada takdir menimpanya maka dia mengatakan, ” Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, miskin dan membutuhkan-Mu, aku hamba-Mu yang fakir, lemah tak berdaya. Engkau adalah Rabbku yang Maha Mulia dan Maha Penyayang. Aku tak mampu untuk bersabar jika Engkau tidak menolongku untuk bersabar, tidak ada kekuatan bagiku jika Engkau tidak menanggungku dan memberiku kekuatan. Tidak ada tempat bersandar bagiku kecuali hanya kepada-Mu, tidak ada yang dapat memberikan pertolongan kepadaku kecuali hanya Engkau. Tidak ada tempat berpaling bagiku dari pintu-Mu, dan tidak ada tempat untuk berlari dari-Mu.?¨

Dia mempersembahkan segalanya hanya untuk Allah subhanahu wata’ala, dan dia hanya bersandar kepada-Nya. Apabila menimpanya sesuatu yang tidak dia sukai maka dia berkata, “Rahmat telah dihadiahkan untukku, obat yang sangat bermanfaat dari Dzat Pemberi Kesembuhan yang mengasihiku.” Jika dia kehilangan sesuatu yang dia sukai, maka dia berkata, “Telah disingkirkan keburukan dari sisiku.”

Semoga Allah subhanahu wata’ala memperbaiki qalbu kita semua, dan menjaganya dari penyakit-penyakit yang merusak dan membinasakan, Amin.

Sumber: Mawaridul Aman al Muntaqa min Ighatsatil Lahfan fi Mashayid asy-Syaithan, penyusun Syaikh Ali bin Hasan bin Ali al-Halabi.


Filed under: Uncategorized | Comments (0)
Husnul Khotimah dan Su'ul Khotimah
December 14, 2008 — Abdullah Hadrami (Views: 26)


Sesungguhnya bagian manusia dari dunia ini adalah umurnya. Apabila dia membaguskan penanaman modalnya pada apa yang dapat memberikan manfaat kepadanya di negeri akherat maka perdagangannya akan beruntung. Jika dia menjelekkan penanaman modalnya dalam perbuatan-perbuatan maksiat dan kejahatan-kejahatan sampai dia bertemu dengan Allah pada penghabisan (akhir) yang jelek itu maka dia termasuk orang-orang yang rugi. Berapa banyak (jasad-jasad) yang menyesal di bawah tanah?!

Orang yang berakal adalah orang yang menghisab (menghitung amalan) dirinya sebelum Allah menghisabnya, dan dia takut akan dosa-dosanya sebelum dosa-dosanya itu menjadi sebab akan kehancurannya. Ibnu Mas’ud ra berkata : “Seorang mu’min melihat dosa-dosanya seolah-olah dia duduk di bawah sebuah gunung, dia takut gunung itu akan menimpanya.” (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Di sini kami akan menerangkan sebab-sebab yang menimbulkan Su’ul Khatimah, sebagai berikut:

1. At-taswif (menunda-nunda) taubat

Bertaubat kepada Allah dari seluruh dosa-dosa adalah wajib bagi setiap mukallaf (orang yang dibebani perkara-perkara agama) pada setiap waktu. Firman Allah Ta’ala, artinya: “Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, mudah-mudahan kalian beruntung.” (An-Nur : 31).
Diantara tipu daya iblis yang paling berhasil dimana dia menyerang manusia dengannya adalah menunda-nunda taubat.

2. Panjang angan-angan

Panjang angan-angan merupakan sebab kesengsaraan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dengan peringatan yang keras dari hal itu, beliau bersabda, artinya:
“Sesungguhnya apa-apa yang paling aku takutkan (terjadi) pada kalian adalah dua sifat: Mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu maka dia akan memalingkan dari kebenaran dan adapun panjang angan-angan maka dia akan (menimbulkan) cinta terhadap dunia.” (HR. Ibnu Abi Ad-Dunya).

3. Menyukai perbuatan maksiat

Apabila manusia terbiasa dengan salah satu perbuatan maksiat dari sekian banyak maksiat dan tidak bertaubat darinya maka setan akan menguasai hatinya dan akan mengua-sai fikirannya sampai saat-saat terakhir dari kehidupannya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, artinya:
“Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan melakukan sesuatu maka Allah akan membangkitkannya dalam keadaan itu.” (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan dishahihkannya menurut syarat Muslim dan disetujui oleh Adz-Dzahaby)

4. Bunuh diri

Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, artinya:
“Orang mati karena mencekik dirinya maka dia akan mencekiknya di dalam neraka dan orang-orang yang menikam dirinya maka dia akan menikamnya di dalam neraka.”

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu , beliau berkata:
“Seorang laki-laki mengikuti perang Khaibar bersama Rasulullah n, maka beliau berbicara tentang seorang laki-laki diantara orang-orang yang diakui telah Islam: “(Laki-laki) ini termasuk penghuni Neraka.” Maka ketika peperangan datang, laki-laki itu banyak membunuh (musuh-musuh) kemudian dia terluka. Maka dikatakan kepada beliau: Wahai Rasulullah, yang engkau katakan tadi bahwa dia termasuk penghuni neraka. Sesungguhnya dia telah banyak membunuh (musuh-musuh) pada hari ini dan dia telah mati. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Menuju ke Neraka.” Sebagian kaum muslimin hampir saja ragu, maka ketika mereka dalam keadaaan (seperti) itu, tiba-tiba ada berita tentang laki-laki tersebut, bahwa: Sesungguhnya dia tidak mati akan tetapi dia terluka parah, maka ketika suatu malam dia tidak sabar atas luka itu, dia bunuh diri. Lalu hal itu dikhabarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka dia bersabda, artinya:
“Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa aku adalah hamba dan utusan Allah.”
Kemudian beliau menyuruh Bilal maka dia berseru kepada manusia: Bahwa “Tidak akan masuk Surga melainkan jiwa-jiwa yang menyerahkan diri, dan sesungguhnya Allah akan benar-benar mengokohkan agama ini dengan laki-laki Fajir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Husnul Khotimah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan tentang beberapa khabar gembira yang menunjukkan pada husnul khatimah, di antaranya :

*

Ucapannya ketika meninggal dunia adalah kalimat tauhid. Al-Hakim meriwayatkan dari Muadz bin Jabal radhiyallah ‘anhu berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , artinya:
“Barangsiapa yang ucapan terakhir-nya adalah tidak ada ilaah selain Allah maka dia akan masuk Surga.” (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim dishahihkan oleh Al-Hakim).

*

Dia mati dalam keadaan syahid dengan tujuan meninggikan kalimat Allah. Allah Ta’ala berfirman, artinya: “Janganlah kalian mengira orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, bahkan mereka hidup di sisi Rabb mereka (dengan) diberi rizki.” (Ali Imran: 169).

*

Dia mati dalam keadaan berperang di jalan Allah atau bermuhrim ketika haji. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya: “Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allah maka dia itu syahid.”
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang seorang yang berihram lalu terjatuh dari ontanya: “Mandikanlah dia dengan air dan (daun/pohon) bidara, kafanilah dia dengan kedua bajunya dan jangan tutupi (kerudungi) kepalanya. Sesungguhnya ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bertalbiyah.” (HR. Muslim).

*

Akhir amalnya, taat kepada Allah. Hudzaifah radhiyallah ‘anhu meriwayatkan dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya: “Barangsiapa mengatakan karena mencari wajah Allah kemudian (akhir hayatnya) ditutupkan dengan kalimat itu maka dia masuk Surga.” (HR. Ahmad).

*

Mati karena membela (diri) dari lima perkara yang dijaga oleh agama, yaitu: Agama, jiwa, harta, kehormatan dan akal. Dari Sa’id bin Zaid radhiyallah ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya: “Barangsiapa yang mati karena membela (mempertahankan) hartanya maka dia syahid. Barangsiapa mati karena membela keluarganya maka dia syahid, barangsiapa mati karena membela agamanya maka dia syahid dan barangsiapa mati karena membela darahnya maka dia syahid.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

*

Mati dalam keadaan bersabar. Dari Jabir bin Utaik berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya: “Orang-orang yang mati syahid ada 7 (macam) selain terbunuh di jalan Allah: Orang yang terkena wabah tho’un syahid, orang yang tenggelam syahid, yang mempunyai penyakit radang paru-paru syahid, orang-orang yang mati karena penyakit perut syahid, orang yang terbakar syahid, orang yang mati karena bencana alam syahid dan wanita yang mati karena hamil syahid.” (HR. Ahmad, Nasaa’i, Abu Dawud dan Hakim dia berkata: sanadnya shahih dan disepakati oleh Adz-Dzahaby).

*

Meninggal dalam keadaan nifas karena (sebab kematiannya adalah) anaknya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya:
“Seorang wanita yang terbunuh oleh anaknya (sebab nifas) adalah syahid. Anaknya dengan kegembiraannya mengantarkan wanita tersebut ke Surga.” (HR. Ahmad).

*

Mati karena tenggelam, terbakar dan bencana (alam). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya:
“Orang-orang yang mati syahid adalah 5 (macam): Orang yang mati karena wabah tho’un, karena penyakit perut, karena tenggelam, karena bencana alam dan orang yang syahid di jalan Allah Azza wa Jalla.” (HR. Tirmidzi dan Muslim).

*

Mati pada malam Jum’at atau siangnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya: “Tidaklah seorang muslim mati pada hari atau malam Jum’at melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah (adzab) kubur.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

*

Berkeringat keningnya ketika mati. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya:
“Seorang Mukmin mati dengan berkeringat di keningnya.” (HR. Tirmidzi dan Nasaa’i).

Penutup

Di ujung pertemuan ini baik bagi kita untuk meringkaskan sarana-sarana yang Allah menjadikannya sebagai sebab husnul khotimah, yaitu :

1. Taqwa kepada Allah

Allah berfirman, artinya: “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwallah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan Muslim.” ( Ali Imran: 102).

2. Terus menerus dzikir kepada Allah

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya: “Barang-siapa yang perkataan terakhirnya adalah Laa Ilaaha Illallaah maka dia masuk Surga.” (HR. Abu Dawud dan Al-Hakim, Al-Hakim menshahihkannya dan disetujui Adz-Dzahabi).
Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari Al-Hasan berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Amalan apakah yang paling utama? beliau bersabda, artinya:
“Engkau mati pada hari engkau meninggal dunia dalam keadaan lisanmu basah dengan dzikir kepada Allah.”

Diringkas dari buletin da’wah dengan judul: “Husnul Khotimah wasailuha Wa ‘Alamatuha wat Tahdziru Min Suil Khotimah” oleh Dr. Abdullah bin Muhammad Al-Muthlaq. cet. Daar Al-Wathan-Riyadh No. 73. [alsofwah]

No comments:

Post a Comment